web 2.0

Pages

Sabtu, 14 Mei 2011

Ayuk Menulis!!

Assalamu’alaikum??
Yap, tanggal 7-8 mei 2o11 yang lalu, ada acara keren yang diadakan oleh Mayoga Book Lovers (mayogabooklovers.blogspot.com) di markasnya, MAN Yogyakarta 3. Apa itu? Yaa...yang pasti hal yang berkenaan dengan BUKU sesuai dengan nama penyelenggara. Apa itu? Apa seminar melahap buku dengan cepat? Atau menjadikan buku lauk pauk sehari-hari??
Bukanlah..acara kerennya adalah...jreeng..jrengg....... ‘Training Kepenulisan Se-DIY & Jateng’. Apakah temen-temen punya pikiran yang sama dengan diriku? Apa ya yang membuat tema ini terlihat keren ya? Biasanya kan training nulis-nulis itu bakal membosankan dan menjenuhkan banget.. tapi ada yang bikin ane berspekulasi bahwa acara itu ‘keren’. Apakah itu?  yaitu title ‘Se-DIY & Jateng’nya, hehehe. Coba aja temen-temen buat lomba, lomba apa aja deh. Misal lomba makan krupuk ‘se-DIY & Jateng’, ato lomba balap karung ‘se-DIY & Jateng’, ato seminar Cara Cepat dan Mudah Utik-Utik Up*l ‘Se-DIY dan Jateng’,  mesti akan terlihat keren!! =,=.
Namun ternyata bukan hanya itu aja loh yang bikin acara itu keren, salah satu motivasi ane ikut acara itu karena terpicu oleh nama-nama pemateri yang ikut nyantol di pengumuman. Membayangkan pemateri pertama aja degup jantungku mulai berdetak kencang, terus membaca nama pemateri kedua otot mulai mengejang, diteruskan ke pemateri ketiga imajinasi mulai menerawang,dan pemateri keempat hati dah mulai mengancam, “awas kalo kamu gak ikut!”. Wah, medeni, langsung aku forward sms itu ke teman-sekelas. Dan antusias mereka ternyata besar sekali! Alhamdulillah-lah... walaupun hanya antusias untuk membalas sms dariku. Sial.
Cpa aj cih pMter1nyaH?? $mPe sGitcu lEbaYna dRimuuH t4o0gh...!!!
Koe kui sing lebay ndul, bosomu ngguilani..wwekz (maaf ya prend, ane emang agak sinis ama orang2 yang nulis bahasa latin jadi kriting gitu. mending masuk sastra arab sekalian aja ...kriting2 dapet pahala. Lha koe, kriting-kriting mbikin enegh.. bunteg)
Ok..ok...sedikit problem tadi. Siapa aja sih pematerinya? Tenang,  akan ane jabarkan berikut visualnya biar temen-temen kalo ketemu sama beliau-beliau bisa sok kenal gitu..dengan cerita kronologis kejadian perkara tentunya.
–––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––
“aslm. mas/mbak, acara dimulai jam berapa ya? Terus kegiatannya apa aja? -Bagus, Mhs UIN Jogja-”, smsku pada salah satu panitia.
“Panggil saja Wiwit mas, acara mulai dari jam 7- 16”, jawabnya dengan singkat.
Dari sms itu dapat diambil kesimpulan bahwa, ACARA DIMULAI PADA JAM 7 PAGI. Tapi..^^ aku benar-benar sedang menjiwai Indonesia hari sabtu itu (7/5). Terlambat. Satu kata yang sebenarnya jadi aib di negara tetangga, bahkan di Amerika, apalagi di Jepang sana. Kalau kita perhatikan secara seksama, pekerjaan ini yang membuat negara kita tidak maju-maju, dan hanya berkembaaaang saja. Mau berkembang sampai mana? Berkembang menghabiskan dana rakyat untuk bersenang-senang dinegara orang? Atau mengembangkan perut yang makin buncit karena uang panas?  Tapi kata ini sepertinya menjadi sebuah kebiasaan yang dibiasakan, khususnya diriku. Makanya, jangan ditiru ya...hehehe
Setelah mandi dan siap-siap berangkat (kunci motor sudah dalam genggaman), ane langsung dihadapkan oleh dua pilihan: Pergi dengan perut keroncongan yang hanya berisi air teh, atau menerima permintaan ibunda untuk menjawab ‘tak buatin sarapan telor ya le..?’. Ya, intuisiku kali ini dapat berjalan. Jawaban ‘Nggeh’ keluar dengan perasaan berkecamuk antara membiarkan kawanku menunggu jemputan yang molor selama 1 ½ jam ato mengisi perut yang sudah merana ini. Tapi perasaan bersalah itu hanya membebani hati selama beberapa detik, karena aku langsung mengirim pesan, “sarapan sek yo...”.hihihi.
ini dia tampang kawanku yang aku ajak untuk malu, untung dia seorang yang penyabar..namanya kang Muhammad Ansori, semoga ia menjadi penulis hebat. Aamin.
-lagi maem-

Sampai di sana, jam menunjukkan angka 08.30. tanpa perasaan bersalah dan malu (saya masih punya ke-malu-an tentunya, walaupun sedikit =,=) kita langsung menulis tanda tangan absensi dan menyerbu tempat duduk yang kosong. Ketika itu pemateri adalah bapak al-Ikhwani.
Siapa dia? Dia adalah salah seorang penulis dan juga motivator. Dia menerangkan cara bagaimana memancing Ide agar muncul di kepala saat kita menulis, kemudian bagaimana menjaga Ide agar tetap terjaga, bagaimana solusi jitu ketika ide itu tersendat dan teori-teori dalam membuat sebuah karangan. Dengan gaya bahasa sederhana yang mudah dipahami oleh peserta yang mayoritas pelajar SMA, beliau menerangkan itu dengan sorot mata dan sikap yang penuh keikhlasan, seolah-olah ia yakin bahwa peserta semua adalah calon penulis hebat. ‘ya pak, Bismillah’.
Pesan-pesan terakhir sebelum beliau meninggalkan kita semua adalah “Nilai IDE hanya 1%, sedangkan 99% adalah tetesan keringat”. “Waw”, batinku. Kadang pikiran idiotku lewat, “berarti kalo mau nulis tinggal nentuin tema, judul, terus push-up 150 kali, lari muter-muter gondokusuman 3 kali, langsung sukses!”. –Gak usah di gubris kawan-kawan, sedikit sarap–.
Kemudian masuk ke sesi tanya jawab ada dua pertanyaan yang di lontarkan oleh peserta, yang pertama waktu-waktu apa saja yang baik saat menulis. Kedua, apakah hasil dari menulis dapat memenuhi kebutuhan? Beliau menjawab dengan baik untuk pertanyaan pertama yang berlandaskan pada kebiasaan para ulama yang menulis pada waktu sahur. Karena pada masa itu jiwa fresh setelah istirahat. Tapi ada juga yang malam hari setelah bekerja, kesimpulannya tergantung pada kebijakan pribadi masing-masing. Pertanyaan kedua dijawab dengan baik juga. Kebanyakan para penulis dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dari menulis. Sebut saja honor jika tulisan kita masuk ke Harian Kompas, berapa rupiah yang akan kita dapatkan? Padahal itu hanya sekali masuk.
Ternyata, waktu sudah menunjukkan pukul 09.00, waktunya beristirahat 10 menit dngan mengambil coffebreak dan penganan di pagi hari. Aku heran, dengan uang yang suangat murah itu, kita bisa mendapatkan sesuatu yang lebih. Istirahat dengan 2 pilihan yang lezat: kopi atau teh dan tambahan penganan yang cukup untuk mengganjal perut kalo belum sarapan (4 macam snack!). Wah, kalau bu Yulia Nasrul (dosen Filsafat Ilmu di kampusku) membaca tulisan ini pasti berkesimpulan, “sistem ekonomi: mengeluarkan sedikit untuk mendapatkan hasil yang sebanyak-banyaknya”. Setuju buk! (“lho apa hubungannya ama filsafat??”. “baca aja sendiri bukunya pak Jujun S, beliau juga ngomong gitu kok di bukunya”, wkwk)
Suasana istirahat
Dan, gak hanya coffebreak aja, tapi ada bazar buku dengan diskon 30% dari penerbit ‘Leutika’ lho..
Setelah semua peserta masuk ruangan kembali, kita dipersilahkan untuk menerima materi sambil menikmati hidangan penganan dan kopi yang telah disajikan. Wah..nikmat.
Pemateri selanjutnya adalah pak Sutrisno. Ada yang kenal?? Kalau belum, ayo aku ajak kenalan..
Beliau adalah pak Sutrisno, anak ke 14 dari 16 bersaudara (wuah?) yang merupakan seorang penulis, motivator, sekaligus da’i. Dengan gaya kocaknya ia menyampaikan materi hingga perut peserta ikut terkocak-kocok (semoga KKBI mengampuniku)..inti dari hal yang beliau sampaikan adalah bahwa kegiatan menulis merupakan kegiatan yang mencari dan menyampaikan informasi kepada masyarakat. Beliau juga banyak mengutip dari pendapat bapak Fauzil Adhim (pemateri selanjutnya), dan para tokoh writer lainnya (ciealah...sok ing. koe coy).
Teng...teng...teng....
Azan dzuhur  dikumandangkan, sesi untuk pak Sutrisno pun berakhir dan waktu untuk makan datang. Eh, waktu shalat datang.
Setelah shalat berjamaah di masjid, peserta mengambil makan. Tak dikira tak dinyana, aku terkagum-kagum lagi dengan penyelenggara, makan siang ini berlauk sayur dan ayam (ayam broth...ayam!! sekelas mahasiswa, ayam merupakan kebutuhan tersier setelah kuliah dan pulsa!) yang emh..lumayan enak! Dan tak ketinggalan hiburan musik amatir (walaupun amatir salut dengan jerih payah mereka berlatih, dan faktor utama ada di... ^^ jadi malu. Apalagi yang nggitar (sebelah keyboard))
Memang benar, firman Gusti Yang Maha Oke, “dijadikan indah pada (hati) manusia kecintaan pada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak,.... Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik. (ali Imran: 14),,ckckck...subhanallah...
(jam 13.00)
Acara dimulai kembali, kali ini pemateri adalah orang besaarr....tidak hanya orangnya yang besar, namun karya-karya dan pengalamannya yang luar biasa besar. Beliau sering diundang ke berbagai macam acara dan kegiatan bertaraf nasional sampai internasional. Dengan gaya bahasa yang sederhana, mendalam, singkat, padat, tidak tergesa-gesa, mencerminkan kewibawaan dirinya. Dialah pemateri yang saya tunggu-tunggu... Bapak Fauzil Adhim. Ini dia penampakannya..
Besar bukan?
Dialah orang yang tulisannya paling banyak dikutip oleh pemateri dalam training ini. Salah satu bukunya yang keren adalah “Kupinang Engkau dengan Hamdalah”. Ia memotivasi para peserta bukan hanya dengan bualan semata, namun juga dengan tindakan nyata. Itu yang membuat kita-kita melonjakkan semangat membara di dada, dan semua termenung mendalami isinya.
Ketika acara dimulai ada moderator yang cukup untuk masuk kategori surat ali Imron tadi ^^..
Ia yang memoderatori pembicara pak Fauzil Adhim. Ada sebuah momen yang tak bisa saya lupakan ketika itu, yaitu saat moderator bilang “semoga kita bisa mengikuti jejak langkah beliau yang begitu besar menjulang ke mana-mana...temen-temen mau kan?”, “mauuu....” dijawab oleh peserta yang lain. Kemudian acara diambil alih oleh pak Fauzil Adhim dan seketika itu juga beliau langsung melontarkan pesan pertama, “Kalian jangan meniru jejak saya, jadilah diri kalian sendiri. Kalau kalian hanya meniru, kalian tidak akan menjadi lebih hebat dari saya, namun JADILAH DIRI KALIAN SENDIRI.” “bakal keren ini...”, batinku.
Acara dimulai, dan ini pesan-pesan beliau yang disampaikan pada peserta:
- serius, dan pantang menyerah (ya, setuju pak!)
-Tidak jaim (jaga image, red) agar dapat bahasa yang enak dimengerti
- data ada
- bahasa yang kuat adalah bahasa yang sederhana
- (ini yang paling penting) MULAI DARI SEKARANG!


Nah pesan selanjutnya untuk temen-temen adalah kalau temen-temen benar-benar niat untuk jadi penulis, tiap hari sisihkanlah waktu untuk menulis, minimal 1 jam. (‘busyet pak..5 menit aja udah lama bener...’) tapi menurut ane bener kok, kalau kita nulis, beratnya dunia ini tak terasa dipundak, bahkan kata pak Fatan (pemateri selanjutnya) menulis itu olahraga yang sehat lho..cobalah kawan! ^^.
Terus, gimana caranya nulis ya? Terus gimana cara agar tulisan kita berbobot? Ya tulis aja apa yang kamu mau dan apa yang kamu ketahui dan agar berbobot pesan beliau, teruslah berlatih dan mengilhami caranya pengarang menulis buku. Hal penting lainnya adalah, update terus pengetahuan kita.
Tau gak? ‘gak’.
Terserah..
Tau gak kawan laptop beliau yang di foto itu beliau dapatkan dari hasil menulis. ( “ah biasa aja, aku juga bisa”) oke, tapi ada yang luar bisa dari laptop beliau. Laptop beliau yang mereknya p*nas*nic itu tahan banting mau dijatuhin dari mana aja, mau kamu injek-injek juga masih utuh dan tahan, dan harganya —kata pak Yusuf (pro-u media, pemateri hari berikutnya)— laptopnya seharga 4 kali motor Tiger Revo yang baru! hitung aja sendiri hehehe.
Nah, ini dia yang terakhir dari beliau, tiga pesan inti dari yang beliau sampaikan, apa saja yang kita butuhkan untuk menerbitkan karya berbobot, check it out..
1. “Daya ketuk atau daya sentuh yang bersumber dari keikhlasan kemurnian niat sehingga menggerakkan sehingga menggerakkan orang yang membacanya”. Beda lho kawan, hasil dari orang yang menulis dengan kemurnian niat tulus ikhlas dengan orang yang menulis untuk mengejar rupiah, dan hasilnya dapat kita lihat sendiri.
2. “Daya isi yang bersumber dari kesediaan untuk terus belajar dan meningkatkan ilmunya”, yang penting lagi adalah dapat mempertanggung jawabkan apa yang ditulisnya.
3. “Daya memahamkan yang bersumber dari penguasaan cara menyampaikan dengan sangat baik dan tuturan bahasa sederhana”. Penguasaan materi dan cara penyampaian yang sederhana. Inilah ilmu komunikasi praktis yang perlu dikuasai sekaligus dilatih. Bukan sekedar berlatih, namun juga mengilmui. Bukan sekedar mengilmui, namun juga terus-menerus melatih kemampuan atas apa-apa yang telah dipelajari.
Yup, ternyata hari itu (7/4) saya tidak dapat melanjutkan perjalanan indah menuju kesuksesan, karena sudah terbentur janji untuk menyelesaikan tugas kuliah. Materi hari itu berakhir lebih awal untukku. Tapi no problem, besok masih ada kelanjutannya..^^


(8/4)
Hari yang di nanti pun datang. Dan kali ini aku mengulang kesalahan yang sama. Tapi menurutku ini bukan kesalahan kok, aku sedang menjiwai indonesia. Yakin. (^^)
Hari ini lebih terlambat setengah jam dari kemarin karena aku harus mengantarkan CD ( CD kaset lho, bukan yang lain!) ke kos teman, karena dia butuh menginstal Operating Systemnya. Namun anehnya diriku masih tenang-tenang saja mengendarai motor, seakan-akan tidak ada apa-apa. Mungkin karena pikiran “aku kan mahasiswa, pesertanya masih pada SMA kok” yang berarti naluri senioritasku muncul menutupi kemaluanku (please deh positive thinking..) akan terlambat. Wajarlah, mahasiswa..hehehe. (ingat, jangan ditiru).
Tandatanganku sudah tercatat, pintu sudah terbuka lebar. Aku dan kawanku masuk dengan perasaan tanpa bersalah, mendengungkan asma “bismillah”, yakin Allah bersamaku (syndrom ra nyadar nek telat).
Ia adalah Pak Fatan Fantastik, seorang penulis yang telah melahirkan beberapa judul buku. Salah satu bukunya yang populer adalah “Bikin Belajar Selezat Coklat”.
Ia menyampaikan dengan gaya yang enerjik, sehingga peserta tidak bosan dibuatnya. Lihat saja gayanya yang mempesona, tapi untuk kaum hawa jangan berharap banyak ya karena beliau sudah ada yang punya...hihihi..
-ust Fatan Fantastik-
Tidak hanya menjadi seorang penulis, Ia juga seorang motivator dan organisator yang handal. Dia menjadi ketua Tim Tombo Ati, organisasi yang membantu korban bencana gempa dan merapi dari segi emotional dan phsycis. Kenapa saya tau? Karena saya pernah bergabung didalamnya, dan pastinya beliau mengenal diriku, dan betapa malunya aku saat itu. Tapi alhamdulillah, ternyata malu ku masih besar (saya sudah ndak bisa khusnudzon pada kalian kalo malu-nya di kasi imbuhan, sudah parah). Dan masih banyak lagi pengalaman beliau yang belum saya ketahui.
Karena saya terlambat, hanya beberapa pesan yang bisa saya tangkap dari beliau, yang pertama tulislah tema yang kamu sukai. Kedua, penulis besar adalah yang bisa menguasai mood dan bukan malah dikuasai oleh mood. Ketiga, bacalah bacaan yang bisa menginspirasimu. Dan ketiga, tulislah berdasarkan pengalamanmu. Bisa dimulai dengan menulis diary, atau yang lain tentunya.
Waktu penyampaian materi oleh pak Fatan sudah berakhir, dan sekarang waktu untuk coffebreak dan mengambil snack.
Nah, ini momen yang dahsyat juga menurutku lho kawan. Dalam acara bagian kedua ini, pemateri terdiri dari 3 orang. Dialah Mas Agung (dari harian KR), Pak Sudaryanto (penulis buku dan tulisannya sering tembus media cetak), dan Pak Yusuf (dari Pro-U media). Ini dia penampakannya..
-mas Agung, Pak Sudaryanto, dan Pak Yusuf-
Moderator mulai me-muqoddimahi acara, ia mulai memperkenalkan tiga orang pembicara yang hadir. Ia juga mengabarkan permohonan maafnya bahwa untuk masing-masing pembicara hanya disediakan waktu 20 menit karena waktu yang bagaikan pedang itu, takkan bisa ditolerir. Sambil menikmati kopi dan snack yang nikmat, lembaran kertas yang kosong dan bolpen hitam ditangan tinggal menunggu aba-aba untuk mengukir sejarah momen itu.
Pembicara pertama adalah Mas Agung, ini dia penampakannya..
Tak kalah dengan pembicara sebelumnya, ia menyampaikan materi dengan bahasa tubuh seolah-olah ia juga berkata pada kita bahwa “inilah aku”. Sangat jelas tergambar karena keindahan dialegtikanya tak semenarik pembicara sebelumnya. Namun isi dari materilah yang membuat bobot pembicaraannya tak dapat dianggap remeh. Ia menyampaikan rahasia-rahasia agar tulisan kita bisa menembus media massa.
Dia juga menyampaikan beberapa kesalahan yang kerap dilakukan oleh pengirim/penulis untuk media massa, yaitu “tujuan karya itu dikirim untuk rubrik apa?”, jangan di anggap remeh lho kawan, karena hal termasuk salah satu cara agar penyeleksi naskah tidak terlalu bingung menyortir tulisan, dan mempermudah tulisan kita untuk mendapat perhatian dari pnyeleksi/editor.
Pemateri selanjutnya adalah Bapak Sudaryanto, beliau penulis buku dan banyak karya-karyanya yang sudah tembus media massa lokal maupun nasional. Salah satu bukunya adalah “Menguangkan Ide”.
-Mas (ben ketok enom) Sudaryanto-
Materi yang disampaikan tidak terlalu mencolok, karena beberapa materi telah di sebutkan oleh pemateri-pemateri sebelumnya. Namun ada beberapa hal yang lebih dari pak Yanto, karena beliau memberikan trik dan tips agar kita dapat menulis dengan sip. Pertama, yakin aja kalo kita bisa nulis, sama halnya seperti kita melakukan hal-hal keseharian kita. Makan, minum, dan yang lain. Kedua, membaca kapanpun di manapun. Ketiga, catat setiap ide yang lewat di benak kita.  Keempat, kembangkan ide awal. Kelima, bila butuh jam untuk menulis, makal segera luangkan waktu. Keenam, tulis atau gunting berita yang menarik. Ketujuh, tulis aja yang kamu pikirkan, jangan mikir akan dimuat ato ndak. Kedelapan, berani kirim tulisanmu ke media massa (nah, ini yang penting). Kesembilan, profesional, jangan mengirimkan artikel yang sama ke 2 media massa yang berbeda.
Tada.....inilah dia, momen yang membuat aku benar-benar termotivasi. Pemateri selanjutnya adalah pak Yusuf dari pro-U media. Dia si keren berkacamata seperti saya (hihi), pintar mengolah kata dengan gaya yang sederhana, dan dia yang menghadiahkan buku pada saya. Alhamdulillah, bisa jadi motivasi buatku. Judulnya, “Janji Para Lelaki.”
-Kembaranku-
Ceritanya, ketika gilirannya ada satu pertanyaan yang dia ajukan, “siapa dari kalian yang benar-benar mau menerbitkan buku maju kedepan!!” bicaranya dengan semangat empat-lima. Nah, karena diriku sok PeDe, aku angkat tangan dan maju ke depan. Tiba-tiba dari belakang suara bergemuruh seperti mengejarku, ternyata yang lain juga mau!. Wah, saingan ini. Namun karena beliau juga heran ternyata banyak juga partisipasi perserta belia memberikan pertanyaan pertama yang membuat aku mendapatkan buku itu. Pertanyaan sederhana. Dan pertanyaan itu benar-benar membuktikan bahwa kemaluanku sudah hilang.
“oke saya kira tadi yang maju dapat dihitung dengan jari saja, namun ternyata kalian hebat-hebat. Saya beri pertanyaan saja. Tolong angkat tangan, tidak usah malu, nanti saya hadiahkan buku ini. Siapa di antara kalian yang hari ini datang paling terlambat?”
‘Glek’, sadis. Seakan-akan dunia berhenti bergerak. Tapi aku brutal, dengan modal penghabisan kemaluan, dan motivasi yang menjulang, aku angkat tanganku hanya dengan hitungan detik dan berteriak lantang tanpa dosa. “SAYA PAAKKK!!”. Dan ternyata hanya diriku yang angkat tangan. Maafkan anakmu bapak-ibuku, kemaluan anakmu ini benar-benar telah lenyap.
Namun kegelisahanku mulai mereda ketika beliau mengatakan bahwa seorang penulis harus pede. Terimakasih pak..(T-T). Saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk menjadi penulis. Kawan-kawan mau ikut? Ayo...let’s do it.
Oke, lanjut lagi. Kemudian materi dari beliau pun dimulai. Ternyata dalam menyikapi sebuah profesi menjadi penulis ada banyak hal yang harus kita pilih. Mau jadi penulis yang idealis abis, tak peduli royalti? Atau idealis, penuh do’a? atau..pemburu rupiah tulen? Atau mungkin pemburu ketenaran? Atau yang terakhir menjadi penulis peraup sensasi? Itu pilihan. Yang pasti ingat pesan pak Fauzil Adhim tadi, perbaiki niat dalam menulis, agar tulisan yang kita buat tiap kata berbuah do’a.
Banyak yang disampaikan oleh pak Yusuf, mulai dari menulis yang disukai pembaca seperti apa, kemudian apa saja hal-hal yang disebalkan penerbit, dan bagaimana ‘menggoda’ penerbit. Beliau paparkan itu semua dengan selera humor yang ringan dan tidak sampai terbahak-bahak. I like it. Karena ternyata kalau kita tertawa terbahak-bahak dapat mengurangi keseriusan kita. Coba saja..yaiyalah...hehehe
Setelah materi berakhir, kemudian shalat dzuhur dan makan siang, kami disuguhkan nasyid yang asyik dari AZAM VOICE. Suaranya asik, anekdotnya menarik, pokoknya sip. Inilah mereka..
-Azzam Voice-
Mataku yang sedari tadi menemukan objeknya di panggung tiba-tiba tertarik pada sesosok indah di sana. Seorang diam yang mendalam. Tenang menghayati. Tertegun mengilhami. Parasnya memang sengaja aku hindari dari mata kamera, agar kalian yang disana tak ikut-ikut takjub dibuatnya. Hahaha, kasian deh lu..
Tapi aku ya tetap aku. Seorang makhluk yang pemalu. Sebelumnya ketika waktu mengambil kopi tiba, nafsu jiwa membujuk, “ayuk kenalan, kapan lagi?”,”kan sambung ukhuwah mas bro kalo kenalan?”,”kesempatan lho...jarang ada di UIN”. Nah kalimat bujukan yang terakhir ini yang membuat aku bangkit dari genggaman nafsu. “Hei, masih keren-keren di UIN ya..hu”. Diriku pun tersadar dan mengalihkan pandangan.
Tenang, bukan apa-apa kok. Allah benar-benar menampakkan hijab kebesaranNya ketika mataku dihadapkan pada keindahan makhluk-Nya. Aku ulangi lagi ya kawan ayatnya, “dijadikan indah pada (hati) manusia kecintaan pada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak,.... Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik. (ali Imran: 14)”.ckckck
Intermezo selesai, masuk ke materi terakhir yaitu pak Zainal Fanani. Pemateri yang ‘kocak’ abis ini menyampaikan materi dengan selera humor yang tinggi. Perut para peserta yang kenyang setelah makan digoncang dengan kelakar-kelakarnya. Ndak percaya? Liat aja gayanya..
-muka seram, tapi bikin perut kram-
Materi dimulai dengan sebuah motivasi dari beliau, dengan suara ngebass yang full power, menggema dalam ruangan aula, makin memantapkan sugesti, “Kesuksesan disediakan untuk orang-orang yang percaya kepada indahnya mimpi-mimpi mereka!”. Muantab.
“Sudah pernah mendengar nama andrea hirata?”, ucapnya.
“sudaaaah”, jawab peserta.
“Sudah pernah mendengar nama Andrea Hirata?!”, teriaknya lagi.
“Suudaahhhh...”, timpal peserta tambah keras.
“Ada yang belum pernah mendengar nama Andrea Hirata?”, tanyanya dengan lantang.
“kalau belum, silahkan keluar dan mencari THT untuk di obati telinganya. KARENA SAYA TADI SUDAH BILANG TIGA KALI NAMA ANDREA HIRATA, kalau ada yang belum pernah dengar, berarti ada yang bermasalah dengan telinga anda”, kelakarnya dan diikuti gelak tawa seluruh peserta dan panitia.
Alhamdulillah, acara pun selesai dengan meriah. Aku yakin, dalam momen yang sederhana namun luarbiasa itu, akan lahir penulis-penulis hebat di masa yang akan datang nanti. Penulis yang akan membawa perubahan dengan tangan penanya. Amin.
Satu pesan untuk kawan-kawan. Menulislah, karena penting untuk kehidupanmu nanti. Kalau kita bisa membuat satu buku saja, akan ada hal yang bisa kita ceritakan untuk anak-cucu nanti.

Ayuk Menulis?!!

Sabtu, 04 Desember 2010

hati lagi..

rindu...akan hatiku yang dulu...

dimana Allah selalu hadir di relung kalbu...

rindu akan hatiku yang dulu...
ketika nafsu memburu, pasti kalah dengan ayat-ayatMu.

namun sekarang, daging ini keras menantang bagai karang..
sombongnya..hati tak hadir saat takdir mengabarkan.."aku ada".

merasa angkuh, tak pernah mengeluh..
walau ayat-Mu selalu merengkuh..

Robbi...ampuni hati ini.
dekatkan dengan semangat jannah..
tak kenal kalah walau lelah..
yang pasti, semua lillahh...


ah..hati..

satu lagi,
masalah tresno ning ati..
yang tak bisa kupungkiri..
bijak pikiran berkata 'nanti saja, kalo sudah siap'..
tapi hatiku bilang..'gampang kali kau bilang..tak kaurasakan apa yang kurasa..tak kau tahan apa yang ku tahan..'
namun jiwaku netral...berpetuah..'tenang aja gan..pasti itu godaan syetan'


aku tambah bingung Tuhan..
seperti berfikir filsafat...
yang jawabannya banyak yang gak sepakat...
satu bilang ada, satu bilang tiada..
namun semua, tetap pada tujuan yang sama..


tapi Tuhan..
engkau pasti menolong kan?
menolong makhluk ini yang sedang dibingungkan..
oleh godaan syetan..

yang slalu menentang apa yang telah jelas kau gamblangkan di singgasanamu dulu..
bersama nabiku, makhlukmu..Adam alaihis salaam..


Ya Tuhan..
Afwan...

Senin, 22 November 2010

Bogor, 26 juni 2o1o kisah untuk kawanku

Siang ini, burung masih berkicau seperti biasanya. Berjejer rapi dalam satu shaf,melenggak-lenggok menahan terpaan angin di atas kabel tiang listrik menyiapkan parade kicauannya untuk ikut meramaikan siang ini. Jam menunjukkan pukul 11.45 waktu Bogor. Matahari siang itu berada pada puncak ia memamerkan panasnya, menambah panasnya suasana kota Bogor yang sesak oleh kendaraan umum ataupun angkotan kota hujan itu.
Sebentar lagi azan berkumandang, akupun bersiap-siap untuk menunaikan shalat jama’ah di masjid dekat rumah. Suasana ketika itu benar-benar tak mendukung kawan..diselimuti panas, dimanjakan malas.
Tak lama kemudian azan pun berkumandang. Tiba-tiba, udara terasa sejuk sejenak. Terasa hawa siang ini ikut tertunduk menjawab lantunan merdu suara azan. Azan itu berasal dari masjid Pondok Pesantren Daarul Uluum, kira-kira seratus meter selatan rumah.
Perjalanan jihad pun dimulai..agak lebay bin alay sih, tapi memang benar kan? Coba saja misal saat perjalanan terserempet angkot yang membabi-buta menguasai jalan???
Tepat di depan gang masjid, terlihat olehku banyak santriwati yang berjalan keluar..”tumben”,batinku. Setelah diselidiki, ternyata hari ini wisuda kelas 6! Hmmm..coba kalian ikut kawanku (Run,Lim,Mbah)..kupastikan pandangan kalian tertuju pada fokus yang sama….hahaha
Walau aku melihat godaan tadi yang buat hati ini jadi tenang, angan-angan terbang melayang, pikiran banyak utang jadi hilang, tetap saja hawa panas siang ini mentransformasi keindahan itu menjadi semu. Kuputuskan untuk segera masuk masjid. Ku lepas sandal Bucheri diskonan 50% baruku (pamer sitik) yang kubalik agar tidak hilang, karena otakku masih teracuni pikiran suudzon tentang tragedi sandal jepit masjid yang hilang. Tak lupa ku baca ‘Bismillah..’ ketika masuk. Tiga langkah kemudian..
‘glek’..anyir…
Tiba-tiba udara terasa sejuk ditambah semerbak harum kasturi mulai menyesak hidungku. Uap-uap yang bau wangi itu menempel di bulu-bulu halus syaraf penciuman hidungku. Lalu syaraf itu mengantarkan harum itu ke otak. Sejenak kemudian timbul di pikiran ini, “kenikmatan ibadah akan dimulai gus!”.
Andai saat itu kalian ada di sana bersamaku kawan, kupastikan sambil menunggu iqamah kita akan membayangkan, memilah dan memilih santriwati Darul Ulum… ahai…
Iqamah pun dikumandangkan. Langsung saja aku mencari shaf pertama yang masih kosong. Aku merinding, takut, malu, melihat para jamaah yang bersinar wajahnya. Tidak ada perbedaan yang spesifik antara imam dan makmum. Pada pandangan pertama pun mereka terlihat memancarkan aura kearifannya. Sementara aku? yang terapit diantara mereka adalah makhluk hina, kecil, mecicil, metakil.. bagai batu hitam yang mengambang di lautan susu (susu bendera putih).
Tapi tak masalah, Kang Harun telah mengajarkanku ilmu PeDe-nya. “etel syuur…” (bahasa jawa yang dirusak olehnya) dan “stay cool dab!”. Terimakasih kawan, ilmumu bermanfaat sekarang.
Setelah selesai shalat dzuhur, aku lanjutkan shalat sunnah. Tak seperti aku yang biasanya. Yang biasanya setelah selesai salam terakhir, selang beberapa detik kemudian, aku telah siap-siap dengan sandalku di depan masjid untuk ambil langkah seribu karena merasa kewajibanku telah gugur. Hehe..parah.
Namun waktu itu aku benar-benar tidak ingin merusak kebiasaan shalat sunnah Ba’diyah di masjid ini.
Setelah aku keluar dari masjid.. “Subhanallah…Alhamdulillah..Astaghfirullah!!!”. gerombolan bidadari-bidadari Darul Ulum itu memandang semua ke arahku. Hal ini memicu virus GR-ku yang sudah lama terpendam. “Biasa wae mbak ngeliatinnya, belom pernah liat orang ganteng po piye??”, bicaraku dalam hati.
Langsung dengan sigap aku tundukkan pandangan ini, dan secara naluriahku yang egois aku mengucap kalimat hamdalah karena kalian enggak ikut kawanku. Kalau kalian ikut? Wah..pasti jatah GR-ku bakalan berkurang karena kalah dengan daya simpatik Harun, Rifqi, n Halim. Alhamdulillah sekali lagi..hahaha dan akupun kembali kerumah dengan berucap “robbanaa hablanaa min azwajinaa, wadzurriyatina qurrota a’yun, waj’alna lilmuttaqiina imaama”..

Sebenanya hanya satu hal yang mau aku sampaikan padamu kawan..
Jika cinta di MANSA tak tergapai, masih ada Darul Ulum yang ramai oi..
(bercanda)..hehe
Di pagi buta, seusai aku membantu ibu menyiapkan sahur, aku duduk termenung di serambi rumahku berharap kantuk mengalah dengan dinginnya pagi ini. Jangkrik masih bersuara juga rupanya, dan mendengarkan alunan merdu iramanya yang masih setia di jaman modern ini, seperti setianya tradisi nyadran, padusan,dan tradisi jawa lainnya yang masih kuat terpatri hingga saat ini. Sungguh,irama sahut-menyahut jangkrik dapat menentramkan jiwaku dari dulu. Semenjak aku mulai sadar akan dunia, saat balita.
Oh ya, aku melupakan kawan kecilku yang sedari tadi menatap ku di depan pagar. Diam tak berkedip. Mematung. Entah apa aku yang geer, tapi aku merasa dia terpana oleh wajahku. Apa di hari puasa pertama ini Allah memperindah parasku? Ah..geer sesaat tak apalah, anggap saja aku tampan. Seindah siluet senja yang kata orangtua bilang, mega merah itu tanda setan mulai berkeliaran.hii.. Ia, kawankecilku tetap pada tempatnya. Tak bergeming. Sampai lima belas-an menit aku menikmati sejuknya alam, ia masih kokoh duduk khas sebangsanya di tempatnya.

Oops, dia masih saja menatapku..diam, tenang. Aah..biarlah aku bergeer ria saat ini. Salahmu kawan menatapku terus, membuatku merasa menjadi makhluk tertampan..tapi aku tetap sadar paras yang Tuhan berikan padaku saat ini. Kata 'tampan' hanya sebuah persamaan kedudukan secara lisan yang ortu berikan agar aku tidak mutung dengan kakakku. Dan lontaran kata 'tampan' selama hidup hanya ortu yang pernah ucapkan padaku..
"Huh..andai saja aku tampan, tak perlulah aku minder di depan orang banyak..sehingga semua pikiran cemerlang dalam otakku dapat terapresiasi di mata publik."
"Andai saja aku tampan, tak perlulah aku mencari simpati wanita untuk bahan bakar motivasiku. Mereka pasti menawarkan diri untuk sekedar 'care' kepadaku".
"Andai saja aku tampan..andai saja..andai saja...andai saja.."
"Huh..andai saja aku jadi anggotaDPR, sang pejabat merah putih, tak akan ku sia-siakan amanah saudara-saudaraku. Ku apresiasikan semua aspirasi mereka. Ku angkat kaum lemah yang terjajah. Kuberantas korupsi yang kian menjadi-jadi."
"Andai saja aku jadi ketua MPR,aku saring presiden yang akan mengabdi, kupilih DPR yang mampu merakyat.."
"Andai saja...aku seorang PRESIDEN! Aku bunuh semua koruptor, aku hajar gayus-gayus lapar, aku stabilkan perekonomian tanah air ini..pasti!! aku jamin! Aku jamin!"
Di tengah-tengah semua itu, ditengah-tengah pengandaian itu..di tengah-tengah waktu saat para wakil rakyat makan sahur dengan ayam dan yang memilihnya kesusahan mencari air untuk sekedar mengisi perut...di tengah-tengah itu semua..di tengah-tengah saat para pejaba tmerencanakan buka bersama dengan dana yang tak di-nyana..di tengah-tengah itusemua...
"p***fh....pr*****tttt....br*****ttt".....
Astaghfirullah..kenapa angin itu keluar sekarang? Apa ia tak kuat menahan dorongan sebangsanya di perutku? Atau angin ini menyindirku dengan pengandaian dan janji-janjiku??
Sejenak setelah itu, kawankecilku ikut berpaling dariku. "Kenapa kawan? Apakah ketampananku telah luntur?Ataukah engkau telah bosan melihat parasku?"
...sunyi...
"atau engkau faham dengan pengandaianku tadi??"
"meong..."
"hah? Atau kamu juga ragu dengan janji-janjiku tadi jika aku jadi pejabat? Aku tak akan tidur, tak akan lupa dengan rakyatku, professional dalam bekerja?"
"meong.."
"apa kamu meragukan janji-janjiku seperti engkau meragukan bualan 'mereka'?"
"meong.."
"lihat saja kawan, jika aku jadipejabat nanti, aka kupastikan janji-janjiku terpenuhi!"
"grrrr...huff..", kucing itu mendengus, pergi.
Sepertinya, kucing itu lebih memilih pejuang di belakang layar.


Ah..dasar kucing...

PERMATA itu, indah. unik. beda.
Hanya sedikit orang yang bisa melihat keindahannya. (entah aku termasuk di dalamnya atau tidak, namun aku termasuk yang setuju bahwa ia indah)
Keindahan dari sorot kemilaunya. Keindahan pancaran segi-segi kristalnya, nampak kristal itu tlah ditempa sematang mungkin.
Aku setuju ia indah.

Namun aku heran.

     ..heran..


terkadang permata itu, memperlihatkan aura keindahannya, seolah-olah ia berkomunikasi denganku, dan menunjukkan bahwa permata itu boleh aku ambil. aku senang. aku senang sekali.
bagaimana tidak, jika permata itu jadi milikku, betapa bahagianya aku. setiap hari inderaku menatap indahnya ia, sebagai rizki dari Ilahi. dan betapa kayanya aku, dan hatiku.

namun,

terkadang dan sering kali ia menutup aura keindahannya. permata itu menutup parasnya dengan kabut hitam, kelam. memperlihatkan bahwa ia, tak sudi kupandangi, benci diriku.

aneh memang.
kenapa? padahal ia, hanya PERMATA.


Robbi..
Tolong diriku..