Oh ya, aku melupakan kawan kecilku yang sedari tadi menatap ku di depan pagar. Diam tak berkedip. Mematung. Entah apa aku yang geer, tapi aku merasa dia terpana oleh wajahku. Apa di hari puasa pertama ini Allah memperindah parasku? Ah..geer sesaat tak apalah, anggap saja aku tampan. Seindah siluet senja yang kata orangtua bilang, mega merah itu tanda setan mulai berkeliaran.hii.. Ia, kawankecilku tetap pada tempatnya. Tak bergeming. Sampai lima belas-an menit aku menikmati sejuknya alam, ia masih kokoh duduk khas sebangsanya di tempatnya.
Oops, dia masih saja menatapku..diam, tenang. Aah..biarlah aku bergeer ria saat ini. Salahmu kawan menatapku terus, membuatku merasa menjadi makhluk tertampan..tapi aku tetap sadar paras yang Tuhan berikan padaku saat ini. Kata 'tampan' hanya sebuah persamaan kedudukan secara lisan yang ortu berikan agar aku tidak mutung dengan kakakku. Dan lontaran kata 'tampan' selama hidup hanya ortu yang pernah ucapkan padaku..
"Huh..andai saja aku tampan, tak perlulah aku minder di depan orang banyak..sehingga semua pikiran cemerlang dalam otakku dapat terapresiasi di mata publik."
"Andai saja aku tampan, tak perlulah aku mencari simpati wanita untuk bahan bakar motivasiku. Mereka pasti menawarkan diri untuk sekedar 'care' kepadaku".
"Andai saja aku tampan..andai saja..andai saja...andai saja.."
"Huh..andai saja aku jadi anggotaDPR, sang pejabat merah putih, tak akan ku sia-siakan amanah saudara-saudaraku. Ku apresiasikan semua aspirasi mereka. Ku angkat kaum lemah yang terjajah. Kuberantas korupsi yang kian menjadi-jadi."
"Andai saja aku jadi ketua MPR,aku saring presiden yang akan mengabdi, kupilih DPR yang mampu merakyat.."
"Andai saja...aku seorang PRESIDEN! Aku bunuh semua koruptor, aku hajar gayus-gayus lapar, aku stabilkan perekonomian tanah air ini..pasti!! aku jamin! Aku jamin!"
Di tengah-tengah semua itu, ditengah-tengah pengandaian itu..di tengah-tengah waktu saat para wakil rakyat makan sahur dengan ayam dan yang memilihnya kesusahan mencari air untuk sekedar mengisi perut...di tengah-tengah itu semua..di tengah-tengah saat para pejaba tmerencanakan buka bersama dengan dana yang tak di-nyana..di tengah-tengah itusemua...
"p***fh....pr*****tttt....br*****ttt".....
Astaghfirullah..kenapa angin itu keluar sekarang? Apa ia tak kuat menahan dorongan sebangsanya di perutku? Atau angin ini menyindirku dengan pengandaian dan janji-janjiku??
Sejenak setelah itu, kawankecilku ikut berpaling dariku. "Kenapa kawan? Apakah ketampananku telah luntur?Ataukah engkau telah bosan melihat parasku?"
...sunyi...
"atau engkau faham dengan pengandaianku tadi??"
"meong..."
"meong.."
"apa kamu meragukan janji-janjiku seperti engkau meragukan bualan 'mereka'?"
"meong.."
"lihat saja kawan, jika aku jadipejabat nanti, aka kupastikan janji-janjiku terpenuhi!"
"grrrr...huff..", kucing itu mendengus, pergi.
Sepertinya, kucing itu lebih memilih pejuang di belakang layar.
Ah..dasar kucing...
0 komentar:
Posting Komentar