Bogor, 26 juni 2o1o kisah untuk kawanku
Siang ini, burung masih berkicau seperti biasanya. Berjejer rapi dalam satu shaf,melenggak-lenggok menahan terpaan angin di atas kabel tiang listrik menyiapkan parade kicauannya untuk ikut meramaikan siang ini. Jam menunjukkan pukul 11.45 waktu Bogor. Matahari siang itu berada pada puncak ia memamerkan panasnya, menambah panasnya suasana kota Bogor yang sesak oleh kendaraan umum ataupun angkotan kota hujan itu.
Sebentar lagi azan berkumandang, akupun bersiap-siap untuk menunaikan shalat jama’ah di masjid dekat rumah. Suasana ketika itu benar-benar tak mendukung kawan..diselimuti panas, dimanjakan malas.
Tak lama kemudian azan pun berkumandang. Tiba-tiba, udara terasa sejuk sejenak. Terasa hawa siang ini ikut tertunduk menjawab lantunan merdu suara azan. Azan itu berasal dari masjid Pondok Pesantren Daarul Uluum, kira-kira seratus meter selatan rumah.
Perjalanan jihad pun dimulai..agak lebay bin alay sih, tapi memang benar kan? Coba saja misal saat perjalanan terserempet angkot yang membabi-buta menguasai jalan???
Tepat di depan gang masjid, terlihat olehku banyak santriwati yang berjalan keluar..”tumben”,batinku. Setelah diselidiki, ternyata hari ini wisuda kelas 6! Hmmm..coba kalian ikut kawanku (Run,Lim,Mbah)..kupastikan pandangan kalian tertuju pada fokus yang sama….hahaha
Walau aku melihat godaan tadi yang buat hati ini jadi tenang, angan-angan terbang melayang, pikiran banyak utang jadi hilang, tetap saja hawa panas siang ini mentransformasi keindahan itu menjadi semu. Kuputuskan untuk segera masuk masjid. Ku lepas sandal Bucheri diskonan 50% baruku (pamer sitik) yang kubalik agar tidak hilang, karena otakku masih teracuni pikiran suudzon tentang tragedi sandal jepit masjid yang hilang. Tak lupa ku baca ‘Bismillah..’ ketika masuk. Tiga langkah kemudian..
‘glek’..anyir…
Tiba-tiba udara terasa sejuk ditambah semerbak harum kasturi mulai menyesak hidungku. Uap-uap yang bau wangi itu menempel di bulu-bulu halus syaraf penciuman hidungku. Lalu syaraf itu mengantarkan harum itu ke otak. Sejenak kemudian timbul di pikiran ini, “kenikmatan ibadah akan dimulai gus!”.
Andai saat itu kalian ada di sana bersamaku kawan, kupastikan sambil menunggu iqamah kita akan membayangkan, memilah dan memilih santriwati Darul Ulum… ahai…
Iqamah pun dikumandangkan. Langsung saja aku mencari shaf pertama yang masih kosong. Aku merinding, takut, malu, melihat para jamaah yang bersinar wajahnya. Tidak ada perbedaan yang spesifik antara imam dan makmum. Pada pandangan pertama pun mereka terlihat memancarkan aura kearifannya. Sementara aku? yang terapit diantara mereka adalah makhluk hina, kecil, mecicil, metakil.. bagai batu hitam yang mengambang di lautan susu (susu bendera putih).
Tapi tak masalah, Kang Harun telah mengajarkanku ilmu PeDe-nya. “etel syuur…” (bahasa jawa yang dirusak olehnya) dan “stay cool dab!”. Terimakasih kawan, ilmumu bermanfaat sekarang.
Setelah selesai shalat dzuhur, aku lanjutkan shalat sunnah. Tak seperti aku yang biasanya. Yang biasanya setelah selesai salam terakhir, selang beberapa detik kemudian, aku telah siap-siap dengan sandalku di depan masjid untuk ambil langkah seribu karena merasa kewajibanku telah gugur. Hehe..parah.
Namun waktu itu aku benar-benar tidak ingin merusak kebiasaan shalat sunnah Ba’diyah di masjid ini.
Setelah aku keluar dari masjid.. “Subhanallah…Alhamdulillah..Astaghfirullah!!!”. gerombolan bidadari-bidadari Darul Ulum itu memandang semua ke arahku. Hal ini memicu virus GR-ku yang sudah lama terpendam. “Biasa wae mbak ngeliatinnya, belom pernah liat orang ganteng po piye??”, bicaraku dalam hati.
Langsung dengan sigap aku tundukkan pandangan ini, dan secara naluriahku yang egois aku mengucap kalimat hamdalah karena kalian enggak ikut kawanku. Kalau kalian ikut? Wah..pasti jatah GR-ku bakalan berkurang karena kalah dengan daya simpatik Harun, Rifqi, n Halim. Alhamdulillah sekali lagi..hahaha dan akupun kembali kerumah dengan berucap “robbanaa hablanaa min azwajinaa, wadzurriyatina qurrota a’yun, waj’alna lilmuttaqiina imaama”..
Sebenanya hanya satu hal yang mau aku sampaikan padamu kawan..
Jika cinta di MANSA tak tergapai, masih ada Darul Ulum yang ramai oi..
(bercanda)..hehe