web 2.0

Pages

Sabtu, 04 Desember 2010

hati lagi..

rindu...akan hatiku yang dulu...

dimana Allah selalu hadir di relung kalbu...

rindu akan hatiku yang dulu...
ketika nafsu memburu, pasti kalah dengan ayat-ayatMu.

namun sekarang, daging ini keras menantang bagai karang..
sombongnya..hati tak hadir saat takdir mengabarkan.."aku ada".

merasa angkuh, tak pernah mengeluh..
walau ayat-Mu selalu merengkuh..

Robbi...ampuni hati ini.
dekatkan dengan semangat jannah..
tak kenal kalah walau lelah..
yang pasti, semua lillahh...


ah..hati..

satu lagi,
masalah tresno ning ati..
yang tak bisa kupungkiri..
bijak pikiran berkata 'nanti saja, kalo sudah siap'..
tapi hatiku bilang..'gampang kali kau bilang..tak kaurasakan apa yang kurasa..tak kau tahan apa yang ku tahan..'
namun jiwaku netral...berpetuah..'tenang aja gan..pasti itu godaan syetan'


aku tambah bingung Tuhan..
seperti berfikir filsafat...
yang jawabannya banyak yang gak sepakat...
satu bilang ada, satu bilang tiada..
namun semua, tetap pada tujuan yang sama..


tapi Tuhan..
engkau pasti menolong kan?
menolong makhluk ini yang sedang dibingungkan..
oleh godaan syetan..

yang slalu menentang apa yang telah jelas kau gamblangkan di singgasanamu dulu..
bersama nabiku, makhlukmu..Adam alaihis salaam..


Ya Tuhan..
Afwan...

Senin, 22 November 2010

Bogor, 26 juni 2o1o kisah untuk kawanku

Siang ini, burung masih berkicau seperti biasanya. Berjejer rapi dalam satu shaf,melenggak-lenggok menahan terpaan angin di atas kabel tiang listrik menyiapkan parade kicauannya untuk ikut meramaikan siang ini. Jam menunjukkan pukul 11.45 waktu Bogor. Matahari siang itu berada pada puncak ia memamerkan panasnya, menambah panasnya suasana kota Bogor yang sesak oleh kendaraan umum ataupun angkotan kota hujan itu.
Sebentar lagi azan berkumandang, akupun bersiap-siap untuk menunaikan shalat jama’ah di masjid dekat rumah. Suasana ketika itu benar-benar tak mendukung kawan..diselimuti panas, dimanjakan malas.
Tak lama kemudian azan pun berkumandang. Tiba-tiba, udara terasa sejuk sejenak. Terasa hawa siang ini ikut tertunduk menjawab lantunan merdu suara azan. Azan itu berasal dari masjid Pondok Pesantren Daarul Uluum, kira-kira seratus meter selatan rumah.
Perjalanan jihad pun dimulai..agak lebay bin alay sih, tapi memang benar kan? Coba saja misal saat perjalanan terserempet angkot yang membabi-buta menguasai jalan???
Tepat di depan gang masjid, terlihat olehku banyak santriwati yang berjalan keluar..”tumben”,batinku. Setelah diselidiki, ternyata hari ini wisuda kelas 6! Hmmm..coba kalian ikut kawanku (Run,Lim,Mbah)..kupastikan pandangan kalian tertuju pada fokus yang sama….hahaha
Walau aku melihat godaan tadi yang buat hati ini jadi tenang, angan-angan terbang melayang, pikiran banyak utang jadi hilang, tetap saja hawa panas siang ini mentransformasi keindahan itu menjadi semu. Kuputuskan untuk segera masuk masjid. Ku lepas sandal Bucheri diskonan 50% baruku (pamer sitik) yang kubalik agar tidak hilang, karena otakku masih teracuni pikiran suudzon tentang tragedi sandal jepit masjid yang hilang. Tak lupa ku baca ‘Bismillah..’ ketika masuk. Tiga langkah kemudian..
‘glek’..anyir…
Tiba-tiba udara terasa sejuk ditambah semerbak harum kasturi mulai menyesak hidungku. Uap-uap yang bau wangi itu menempel di bulu-bulu halus syaraf penciuman hidungku. Lalu syaraf itu mengantarkan harum itu ke otak. Sejenak kemudian timbul di pikiran ini, “kenikmatan ibadah akan dimulai gus!”.
Andai saat itu kalian ada di sana bersamaku kawan, kupastikan sambil menunggu iqamah kita akan membayangkan, memilah dan memilih santriwati Darul Ulum… ahai…
Iqamah pun dikumandangkan. Langsung saja aku mencari shaf pertama yang masih kosong. Aku merinding, takut, malu, melihat para jamaah yang bersinar wajahnya. Tidak ada perbedaan yang spesifik antara imam dan makmum. Pada pandangan pertama pun mereka terlihat memancarkan aura kearifannya. Sementara aku? yang terapit diantara mereka adalah makhluk hina, kecil, mecicil, metakil.. bagai batu hitam yang mengambang di lautan susu (susu bendera putih).
Tapi tak masalah, Kang Harun telah mengajarkanku ilmu PeDe-nya. “etel syuur…” (bahasa jawa yang dirusak olehnya) dan “stay cool dab!”. Terimakasih kawan, ilmumu bermanfaat sekarang.
Setelah selesai shalat dzuhur, aku lanjutkan shalat sunnah. Tak seperti aku yang biasanya. Yang biasanya setelah selesai salam terakhir, selang beberapa detik kemudian, aku telah siap-siap dengan sandalku di depan masjid untuk ambil langkah seribu karena merasa kewajibanku telah gugur. Hehe..parah.
Namun waktu itu aku benar-benar tidak ingin merusak kebiasaan shalat sunnah Ba’diyah di masjid ini.
Setelah aku keluar dari masjid.. “Subhanallah…Alhamdulillah..Astaghfirullah!!!”. gerombolan bidadari-bidadari Darul Ulum itu memandang semua ke arahku. Hal ini memicu virus GR-ku yang sudah lama terpendam. “Biasa wae mbak ngeliatinnya, belom pernah liat orang ganteng po piye??”, bicaraku dalam hati.
Langsung dengan sigap aku tundukkan pandangan ini, dan secara naluriahku yang egois aku mengucap kalimat hamdalah karena kalian enggak ikut kawanku. Kalau kalian ikut? Wah..pasti jatah GR-ku bakalan berkurang karena kalah dengan daya simpatik Harun, Rifqi, n Halim. Alhamdulillah sekali lagi..hahaha dan akupun kembali kerumah dengan berucap “robbanaa hablanaa min azwajinaa, wadzurriyatina qurrota a’yun, waj’alna lilmuttaqiina imaama”..

Sebenanya hanya satu hal yang mau aku sampaikan padamu kawan..
Jika cinta di MANSA tak tergapai, masih ada Darul Ulum yang ramai oi..
(bercanda)..hehe
Di pagi buta, seusai aku membantu ibu menyiapkan sahur, aku duduk termenung di serambi rumahku berharap kantuk mengalah dengan dinginnya pagi ini. Jangkrik masih bersuara juga rupanya, dan mendengarkan alunan merdu iramanya yang masih setia di jaman modern ini, seperti setianya tradisi nyadran, padusan,dan tradisi jawa lainnya yang masih kuat terpatri hingga saat ini. Sungguh,irama sahut-menyahut jangkrik dapat menentramkan jiwaku dari dulu. Semenjak aku mulai sadar akan dunia, saat balita.
Oh ya, aku melupakan kawan kecilku yang sedari tadi menatap ku di depan pagar. Diam tak berkedip. Mematung. Entah apa aku yang geer, tapi aku merasa dia terpana oleh wajahku. Apa di hari puasa pertama ini Allah memperindah parasku? Ah..geer sesaat tak apalah, anggap saja aku tampan. Seindah siluet senja yang kata orangtua bilang, mega merah itu tanda setan mulai berkeliaran.hii.. Ia, kawankecilku tetap pada tempatnya. Tak bergeming. Sampai lima belas-an menit aku menikmati sejuknya alam, ia masih kokoh duduk khas sebangsanya di tempatnya.

Oops, dia masih saja menatapku..diam, tenang. Aah..biarlah aku bergeer ria saat ini. Salahmu kawan menatapku terus, membuatku merasa menjadi makhluk tertampan..tapi aku tetap sadar paras yang Tuhan berikan padaku saat ini. Kata 'tampan' hanya sebuah persamaan kedudukan secara lisan yang ortu berikan agar aku tidak mutung dengan kakakku. Dan lontaran kata 'tampan' selama hidup hanya ortu yang pernah ucapkan padaku..
"Huh..andai saja aku tampan, tak perlulah aku minder di depan orang banyak..sehingga semua pikiran cemerlang dalam otakku dapat terapresiasi di mata publik."
"Andai saja aku tampan, tak perlulah aku mencari simpati wanita untuk bahan bakar motivasiku. Mereka pasti menawarkan diri untuk sekedar 'care' kepadaku".
"Andai saja aku tampan..andai saja..andai saja...andai saja.."
"Huh..andai saja aku jadi anggotaDPR, sang pejabat merah putih, tak akan ku sia-siakan amanah saudara-saudaraku. Ku apresiasikan semua aspirasi mereka. Ku angkat kaum lemah yang terjajah. Kuberantas korupsi yang kian menjadi-jadi."
"Andai saja aku jadi ketua MPR,aku saring presiden yang akan mengabdi, kupilih DPR yang mampu merakyat.."
"Andai saja...aku seorang PRESIDEN! Aku bunuh semua koruptor, aku hajar gayus-gayus lapar, aku stabilkan perekonomian tanah air ini..pasti!! aku jamin! Aku jamin!"
Di tengah-tengah semua itu, ditengah-tengah pengandaian itu..di tengah-tengah waktu saat para wakil rakyat makan sahur dengan ayam dan yang memilihnya kesusahan mencari air untuk sekedar mengisi perut...di tengah-tengah itu semua..di tengah-tengah saat para pejaba tmerencanakan buka bersama dengan dana yang tak di-nyana..di tengah-tengah itusemua...
"p***fh....pr*****tttt....br*****ttt".....
Astaghfirullah..kenapa angin itu keluar sekarang? Apa ia tak kuat menahan dorongan sebangsanya di perutku? Atau angin ini menyindirku dengan pengandaian dan janji-janjiku??
Sejenak setelah itu, kawankecilku ikut berpaling dariku. "Kenapa kawan? Apakah ketampananku telah luntur?Ataukah engkau telah bosan melihat parasku?"
...sunyi...
"atau engkau faham dengan pengandaianku tadi??"
"meong..."
"hah? Atau kamu juga ragu dengan janji-janjiku tadi jika aku jadi pejabat? Aku tak akan tidur, tak akan lupa dengan rakyatku, professional dalam bekerja?"
"meong.."
"apa kamu meragukan janji-janjiku seperti engkau meragukan bualan 'mereka'?"
"meong.."
"lihat saja kawan, jika aku jadipejabat nanti, aka kupastikan janji-janjiku terpenuhi!"
"grrrr...huff..", kucing itu mendengus, pergi.
Sepertinya, kucing itu lebih memilih pejuang di belakang layar.


Ah..dasar kucing...

PERMATA itu, indah. unik. beda.
Hanya sedikit orang yang bisa melihat keindahannya. (entah aku termasuk di dalamnya atau tidak, namun aku termasuk yang setuju bahwa ia indah)
Keindahan dari sorot kemilaunya. Keindahan pancaran segi-segi kristalnya, nampak kristal itu tlah ditempa sematang mungkin.
Aku setuju ia indah.

Namun aku heran.

     ..heran..


terkadang permata itu, memperlihatkan aura keindahannya, seolah-olah ia berkomunikasi denganku, dan menunjukkan bahwa permata itu boleh aku ambil. aku senang. aku senang sekali.
bagaimana tidak, jika permata itu jadi milikku, betapa bahagianya aku. setiap hari inderaku menatap indahnya ia, sebagai rizki dari Ilahi. dan betapa kayanya aku, dan hatiku.

namun,

terkadang dan sering kali ia menutup aura keindahannya. permata itu menutup parasnya dengan kabut hitam, kelam. memperlihatkan bahwa ia, tak sudi kupandangi, benci diriku.

aneh memang.
kenapa? padahal ia, hanya PERMATA.


Robbi..
Tolong diriku..
suatu ketika aku bertanya pada seorang kawan.
"kamu ndak minder lihat temen2 mu banyak banget yang lebih pinter dari kamu?"

"kenapa harus minder?",ucapnya.

"ya aku merasa seperti itu kawan, dan aku sedikit tahu bagaimana aakn keadaanmu juga.."

ia merangkulku sambil mengajak keluar kampus.

"kawan, ingat motivasi kita dari awal. aku di sini bukan untuk 'bersaing', namun tuk 'belajar'. mereka lebih pintar? tidak masalah karena mereka telah mendapat pelajaran lebih dulu dari sana..", ucapnya dengan gaya khas tangannya yg bergerak lincah.

"syukron, akhi".

hilang..

"hai cinta! kemana dirimu? aku sering dapatkan kamu..tapi bentuk kasatmu cepat sekali menghilang dari sanubariku?""cari aku di hatimu, cari di sudut-sudut hatimu. tenang, dan optimis yang penting. dan pikirkan, apakah telah pantas engkau untuk temuiku? atau tunggu hingga segala urusan otakmu dan dompetmu rampung."
"tapi, aku tak kuasa menahan goda..?"
"itu bukan kamu! carilah aku, jika engkau telah siap!"

tertidur lelap..

Minggu, 21 November 2010

Subuh itu..

kring..kring..kring..
pagi-pagi suara alarm ponselku berbunyi sangat nyaring. apalagi ponsel itu aku taruh tepat di samping kupingku. Sontak aku kaget dan mencari cara membunuh alarm sarap tersebut. ku ambil ponsel itu dan ku pencet tombol 'turn off alarm'. ya,alarm langsung mati.mati suri. aku lihat ponsel, ketika itu pukul 04.00. aku merasa sangat mengantuk karena tadi malam aku tak bisa tertidur pulas gara-gara tergoda nafsu syaiton untuk melihat Piala Dunia 2010 babak penyisihan awal sampai jam 2 pagi. karena mata ini tak mau diajak kompromi, aku siapkan kembali posisi ternikmat menyambut mimpi. namun tiba-tiba, terdengar suara musik Raihan yang berjudul Peristiwa Subuh. Lagu itu terdengar nyaman pada awalnya, intronya terdengar lemah lembut piano..sejurus kemudian disusul tabuhan beduk azan subuh yang menggema ringan..namun tiba-tiba terdengar suara manusia dengan isi lirik yang menyindir qolbu. iman lemahku kuat seketika karena malu dengan isi tersebut yang menyatakan bahwa orang-orang lebih memilih bergumul dengan bantalnya ketika subuh tiba. 'sial' dalam batinku. lagu itu benar-benar mengganggu masa indahku bersama mimpi!. lalu aku mencoba mematikan kembali alarm poselku itu dan memang dasar syetan biadab, dia berhasil menggodaku untuk berniat tidur kembali, dan melemahkan kembali imanku yang tegang karena lagu itu, padahal kira-kira 5 menit lagi azan subuh berkumandang. namun ketika aku melihat ponselku, terdapat tulisan yang memang ku-stel agar tampak saat alarm berbunyi yang bertuliskan "INGET MATI LE..".
aaaaaaaarrrggggghhhhhh!!! ingin kubunuh dan kuhukum diriku sendiri karena telah men-set tulisan tersebut!
aku bangkitkan tubuhku masih dalam keadaan duduk. tubuh ini seperti melayang-ringan karena masih mengantuk berat. Sebentar kemudian azan subuhpun dikumandangkan, dan aku hafal sekali suara ini. seorang yang sudah sepuh berusia sekitar 80-an. namun yang membuatku malu lagi, adalah ingatanku tentangnya bahwa beliau tidak pernah meninggalkan shalat berjamaah! hatiku pun kagum, dan kekaguman itu membawaku untuk ke kamar mandi dan mengambil air wudhu. seusai wudhu aku bersiap-siap dan pergi ke masjid yang berjarak sekitar 150 meter dari rumahku.seperrti biasanya, dari aku lahir fenomena ini yang terlihat ketika aku shalat subuh berjamaah.tak ada manusia muda selain 3 orang di masjid itu. Aku, Takmir, dan temannya Mas Takmir. Malu hatiku saat itu. Malu yang bercampur dengan bumbu syukur. Malu karena kebanyakan bapak-bapak 'sepuh' yang sudi mengorbankan masa istirahatnya untuk bersusah payah bangun dan menuju masjid untuk beribadah. Dan aku bersyukur karena Tuhan masih memberikan kesadaran kepadaku untuk mau berjalan ke Masjid walau banyak rintangan godaan menghalang di sepanjang jalan.lebay.
iqomah pun dikumandangkan dan shalat subuh segera dilaksanakan.
Al-fatihah pertama, kefokusanku benar-benar hilang. kantukku mulai menyerang hebat. aku mencari cara agar kantuk itu mereda...
sebentar kemudian terlintas dikepalaku bayangan negri ini. Tanahnya bagai tanah surga. segala macam tumbuhan mampu tumbuh dengan rimbun. lautnya bagai kolam susu. sampai-sampai ikan-ikannya pun menawarkan diri ikhlas untuk disantap. Alam hijaunya yang nian slalu berdzikir..hingga tampak indah layaknya permadani alam. hijau, rimbun, tenang, bak Kiai yang alim penuh kedhobitan. minyaknya yang selalu semangat menyembur bahkan tak terbendung hingga detik ini..
Allahuakbar..(imam rukuk)
Astaghfirullah, aku benar-benar tidak fokus subuh kali ini. Akupun kembali keshalat subuhku.
namun parahnya, ketika imam memulai membaca al-fatihah rakaat ke-dua, terbayang lagi tentang indonesiaku..dengan segala kekayaan surga dunia itu, hatiku miris membayangkan generasi yang akan memimpin Indonesia ini besok. generasi yang seharusnya menyiapkan diri mempersiapkan tuntutan bangsa kedepan, tercemar demam badmoral. kesopanan yang dulu diagung-agungkan, kini sirna seketika. cinta yang pokok-nya menjadi motivator hati, tak dapat terjaga indah. bahkan banyak kalangan yang menjadikan pelancar nafsu bejatnya.nauzubillah. westernisasi yang merajalela, menggerogoti watak natural pemuda bangsa. watak yang seharusnya penuh semangat kemerdekaan dari kegoblokan! watak pantang menyerah yang kini jadikan narkotika jadi penyelesaian!
watak pernuh tekad bukan nekat! watak bhinneka tunggal ika! watak ing ngarso sang tulodo ing madya bangun karsa!
tak ingatkah mereka semua pada perjuangan kaum pemuda dulu? yang berani mengambil resiko menculik bung Karno untuk menyegerakan KEMERDEKAAN bangsa ini??? dan para pemuda yang berjuang dinegara tetangga hanya untuk memakmurkan bangsa ini??
emosiku mencuat ketika itu. Sejurus kemudian terdengar suara "aamiin" dari para jamaah. aduh, aku tertinggal lagi.
namun memang dasar Aku. ingatan bangsa ini pun kembali…
watak generasi muda ini oleh terkubur oleh pemanjaan hypersoft. pemanjaan yang pemuda bahkan tak sadar bahwa mereka sedang dibodohi..
pemanjaan oleh akulturasi barat.
Lihat saja, mereka telah dimanjakan oleh ponsel berfasilitas ciamik. Sebut saja ketika rapat, bukan ketua yang diperhatikan, namun semua indera tertuju pada ponselnya. tak ada ruang untuk informasi masuk ke dalam pikirannya. alhasil, SDM yang hadirpun serasa percuma.
generasi ini telah dimanjakan kendaraan indah, yang menjadikan kubu-kubu antara si 'punya' dan'tidak'. dan menghasilkan keinginan yang merepotkan orangtua mereka.
mereka telah dimanjakan dan diracun oleh mode-mode 'minim syariat maxi maksiat'. Yang dahulunya jika ketiak terlihat saja sudah membuat rongrongan umat, kini dada dan paha pun diumbar.dengan tujuan penge-‘cap’-an kata SEKSI yang menjadi kebanggaan.Naudzubillahimindzalik..
aku tetap melanjutkan angan-anganku yang telah terbang jauh melewati sungai-sungai di indonesia..menelusuri budaya-budaya papua yang alami.indah. terbang ke atas, memandangi hijau negri ini.subhanallah..
sampai akhirnya imam rukuk, dan aku mengikutinya samapi salam tiba. Setelah salam, seperti biasa jamaah berdzikir dengan tenang dan khusuk. Seluruh dzikirku aku fokuskan untuk istigfar..karena aku lalai fokus saat shalat tadi.
Setelah semua jamaah keluar dari masjid, tinggal bapak tua tadi dan aku sendiri saja yang masih bertahan.
Tiba-tiba bapak tadi mendekatiku dan bertanya, “jenengmu sapa le?”.
“Denis mbah”, jawabku dengan halus.
“lha asmane simbah sinten??”, tnyaku menyerobot lebih dulu.
Tiba-tiba dia duduk tegak, membusungkan dan menempelkan kepalan tangannya di dadanya seolah-olah beliau ingin memberitahukan beratnya perjuangannya dulu. Lalu berkata, “Satyo Mangun Negoro le….!!”.
“Waauuuwwww………..”, decakku kagum. Jarang ku melihat mbah-mbah sepuh sesemangat ini!
“le..”, tiba-tiba beliau berkata dengan nada intro garak-gerik akan memberikan wejangan.
“Nggeh mbah?”.
“Bangsa iki wis rapuh digrogoti mowo, wong-wong munafik wis akeh sing dadi pejabate negoro. Sue-sue, ambyar negoro iki le..”.
Aku mlongo.
“le, kanca-kancamu cah nom saiki, akeh sing foya-foya, ora reti abote jogo amanah negoro adimakmur iki”
“le..”
“nggih..”
“koe lan kanca-kancamu kudu siap nanggung amanah negoro iki! Negoro ingkang makmur. Gemah ripah loh jinawi. Ojo nganti ketularan nyemplung ning hal-hal sing ora becik. Nek koe yakin dadi pemimpin, opo dadi wong sukses, yakinono! Gusti Allah mirengi. Gusti Allah ora budek”
“nggih mbah”, aku bingung mau menjawab apa, karena aku tak dapat bahasa karma halus selain, ‘nggih’.parah.
“le, omongno amanah iki marang konco-koncomu. Dadio wong kang iso makmurke Bangsa iki. Ilangi iblis-iblis sing wani nggrogoti. Kandelno jiwa patriotmu. Ora kenal nyerah nek jek iso mlampah, ra bakal kalah sakdurunge izroil singgah!”
“nggih mbah”
“yo wis le”, bapak sepuh itu batuk-batuk ringan, “gatekno apik-apik amanah iki. Ora mung ‘nggah-nggih wae!”.
‘Glek’..sial.
Bapak itu pun kembali kerumah karena batuknya yang terlihat semakin parah. Setelah menutup jendela-jendela masjid akupun kembali kerumah. Di sepanjang jalan, ku ingat-ingat kembali apa yang dikatakan simbah tadi. Kupandangi bintang-bintang yang bahagia memantulkan sinar kecilnya. Mereka tetap bahagia walau tak seterang bulan kala itu. Karena pikirku, mereka pasti bersyukur, walau mereka tak dapat membuat nikmat bagi kehidupan bumi layaknya matahari, namun dia dapat menjadi keindahan yang dinikmati oleh manusia di bumi-Nya.
Sampai rumah, aku berusaha melawan kantukku yang membabi-buta. Namun, aku hanyalah manusia biasa yang lemah…(ngeles) akupun terlelap dalam mimpi indahku bersama bidadari..uhuy
“asslaamualaikum wr wb.”, pukul 06.10 suara 3 buah speaker TOA masjid membangunkan tidurku. Dengan berat mata aku mencoba mendengarkan, biasanya ada pengumuman tempat kerja bakti kalau hari Ahad seperti ini.
Tapi…
“innalillahi wa inna ilaihi raajiun..(3x –males ngetik jwe-)
Telah berpulang dengan tenang ke Rahmatullah, Bapak Satyo Mangun Negara..”
Gleek..
“berusia 87 tahun, beralamat di Wonocatur. Insya Allah jenazah akan dimakamkan di TPU desa Wonocatur pukul 13.00. wassalamualikum..”
Aku menelan ludah..seolah tak percaya..Innalillahi wa innailaihi roojiun.