web 2.0

Pages

Minggu, 21 November 2010

Subuh itu..

kring..kring..kring..
pagi-pagi suara alarm ponselku berbunyi sangat nyaring. apalagi ponsel itu aku taruh tepat di samping kupingku. Sontak aku kaget dan mencari cara membunuh alarm sarap tersebut. ku ambil ponsel itu dan ku pencet tombol 'turn off alarm'. ya,alarm langsung mati.mati suri. aku lihat ponsel, ketika itu pukul 04.00. aku merasa sangat mengantuk karena tadi malam aku tak bisa tertidur pulas gara-gara tergoda nafsu syaiton untuk melihat Piala Dunia 2010 babak penyisihan awal sampai jam 2 pagi. karena mata ini tak mau diajak kompromi, aku siapkan kembali posisi ternikmat menyambut mimpi. namun tiba-tiba, terdengar suara musik Raihan yang berjudul Peristiwa Subuh. Lagu itu terdengar nyaman pada awalnya, intronya terdengar lemah lembut piano..sejurus kemudian disusul tabuhan beduk azan subuh yang menggema ringan..namun tiba-tiba terdengar suara manusia dengan isi lirik yang menyindir qolbu. iman lemahku kuat seketika karena malu dengan isi tersebut yang menyatakan bahwa orang-orang lebih memilih bergumul dengan bantalnya ketika subuh tiba. 'sial' dalam batinku. lagu itu benar-benar mengganggu masa indahku bersama mimpi!. lalu aku mencoba mematikan kembali alarm poselku itu dan memang dasar syetan biadab, dia berhasil menggodaku untuk berniat tidur kembali, dan melemahkan kembali imanku yang tegang karena lagu itu, padahal kira-kira 5 menit lagi azan subuh berkumandang. namun ketika aku melihat ponselku, terdapat tulisan yang memang ku-stel agar tampak saat alarm berbunyi yang bertuliskan "INGET MATI LE..".
aaaaaaaarrrggggghhhhhh!!! ingin kubunuh dan kuhukum diriku sendiri karena telah men-set tulisan tersebut!
aku bangkitkan tubuhku masih dalam keadaan duduk. tubuh ini seperti melayang-ringan karena masih mengantuk berat. Sebentar kemudian azan subuhpun dikumandangkan, dan aku hafal sekali suara ini. seorang yang sudah sepuh berusia sekitar 80-an. namun yang membuatku malu lagi, adalah ingatanku tentangnya bahwa beliau tidak pernah meninggalkan shalat berjamaah! hatiku pun kagum, dan kekaguman itu membawaku untuk ke kamar mandi dan mengambil air wudhu. seusai wudhu aku bersiap-siap dan pergi ke masjid yang berjarak sekitar 150 meter dari rumahku.seperrti biasanya, dari aku lahir fenomena ini yang terlihat ketika aku shalat subuh berjamaah.tak ada manusia muda selain 3 orang di masjid itu. Aku, Takmir, dan temannya Mas Takmir. Malu hatiku saat itu. Malu yang bercampur dengan bumbu syukur. Malu karena kebanyakan bapak-bapak 'sepuh' yang sudi mengorbankan masa istirahatnya untuk bersusah payah bangun dan menuju masjid untuk beribadah. Dan aku bersyukur karena Tuhan masih memberikan kesadaran kepadaku untuk mau berjalan ke Masjid walau banyak rintangan godaan menghalang di sepanjang jalan.lebay.
iqomah pun dikumandangkan dan shalat subuh segera dilaksanakan.
Al-fatihah pertama, kefokusanku benar-benar hilang. kantukku mulai menyerang hebat. aku mencari cara agar kantuk itu mereda...
sebentar kemudian terlintas dikepalaku bayangan negri ini. Tanahnya bagai tanah surga. segala macam tumbuhan mampu tumbuh dengan rimbun. lautnya bagai kolam susu. sampai-sampai ikan-ikannya pun menawarkan diri ikhlas untuk disantap. Alam hijaunya yang nian slalu berdzikir..hingga tampak indah layaknya permadani alam. hijau, rimbun, tenang, bak Kiai yang alim penuh kedhobitan. minyaknya yang selalu semangat menyembur bahkan tak terbendung hingga detik ini..
Allahuakbar..(imam rukuk)
Astaghfirullah, aku benar-benar tidak fokus subuh kali ini. Akupun kembali keshalat subuhku.
namun parahnya, ketika imam memulai membaca al-fatihah rakaat ke-dua, terbayang lagi tentang indonesiaku..dengan segala kekayaan surga dunia itu, hatiku miris membayangkan generasi yang akan memimpin Indonesia ini besok. generasi yang seharusnya menyiapkan diri mempersiapkan tuntutan bangsa kedepan, tercemar demam badmoral. kesopanan yang dulu diagung-agungkan, kini sirna seketika. cinta yang pokok-nya menjadi motivator hati, tak dapat terjaga indah. bahkan banyak kalangan yang menjadikan pelancar nafsu bejatnya.nauzubillah. westernisasi yang merajalela, menggerogoti watak natural pemuda bangsa. watak yang seharusnya penuh semangat kemerdekaan dari kegoblokan! watak pantang menyerah yang kini jadikan narkotika jadi penyelesaian!
watak pernuh tekad bukan nekat! watak bhinneka tunggal ika! watak ing ngarso sang tulodo ing madya bangun karsa!
tak ingatkah mereka semua pada perjuangan kaum pemuda dulu? yang berani mengambil resiko menculik bung Karno untuk menyegerakan KEMERDEKAAN bangsa ini??? dan para pemuda yang berjuang dinegara tetangga hanya untuk memakmurkan bangsa ini??
emosiku mencuat ketika itu. Sejurus kemudian terdengar suara "aamiin" dari para jamaah. aduh, aku tertinggal lagi.
namun memang dasar Aku. ingatan bangsa ini pun kembali…
watak generasi muda ini oleh terkubur oleh pemanjaan hypersoft. pemanjaan yang pemuda bahkan tak sadar bahwa mereka sedang dibodohi..
pemanjaan oleh akulturasi barat.
Lihat saja, mereka telah dimanjakan oleh ponsel berfasilitas ciamik. Sebut saja ketika rapat, bukan ketua yang diperhatikan, namun semua indera tertuju pada ponselnya. tak ada ruang untuk informasi masuk ke dalam pikirannya. alhasil, SDM yang hadirpun serasa percuma.
generasi ini telah dimanjakan kendaraan indah, yang menjadikan kubu-kubu antara si 'punya' dan'tidak'. dan menghasilkan keinginan yang merepotkan orangtua mereka.
mereka telah dimanjakan dan diracun oleh mode-mode 'minim syariat maxi maksiat'. Yang dahulunya jika ketiak terlihat saja sudah membuat rongrongan umat, kini dada dan paha pun diumbar.dengan tujuan penge-‘cap’-an kata SEKSI yang menjadi kebanggaan.Naudzubillahimindzalik..
aku tetap melanjutkan angan-anganku yang telah terbang jauh melewati sungai-sungai di indonesia..menelusuri budaya-budaya papua yang alami.indah. terbang ke atas, memandangi hijau negri ini.subhanallah..
sampai akhirnya imam rukuk, dan aku mengikutinya samapi salam tiba. Setelah salam, seperti biasa jamaah berdzikir dengan tenang dan khusuk. Seluruh dzikirku aku fokuskan untuk istigfar..karena aku lalai fokus saat shalat tadi.
Setelah semua jamaah keluar dari masjid, tinggal bapak tua tadi dan aku sendiri saja yang masih bertahan.
Tiba-tiba bapak tadi mendekatiku dan bertanya, “jenengmu sapa le?”.
“Denis mbah”, jawabku dengan halus.
“lha asmane simbah sinten??”, tnyaku menyerobot lebih dulu.
Tiba-tiba dia duduk tegak, membusungkan dan menempelkan kepalan tangannya di dadanya seolah-olah beliau ingin memberitahukan beratnya perjuangannya dulu. Lalu berkata, “Satyo Mangun Negoro le….!!”.
“Waauuuwwww………..”, decakku kagum. Jarang ku melihat mbah-mbah sepuh sesemangat ini!
“le..”, tiba-tiba beliau berkata dengan nada intro garak-gerik akan memberikan wejangan.
“Nggeh mbah?”.
“Bangsa iki wis rapuh digrogoti mowo, wong-wong munafik wis akeh sing dadi pejabate negoro. Sue-sue, ambyar negoro iki le..”.
Aku mlongo.
“le, kanca-kancamu cah nom saiki, akeh sing foya-foya, ora reti abote jogo amanah negoro adimakmur iki”
“le..”
“nggih..”
“koe lan kanca-kancamu kudu siap nanggung amanah negoro iki! Negoro ingkang makmur. Gemah ripah loh jinawi. Ojo nganti ketularan nyemplung ning hal-hal sing ora becik. Nek koe yakin dadi pemimpin, opo dadi wong sukses, yakinono! Gusti Allah mirengi. Gusti Allah ora budek”
“nggih mbah”, aku bingung mau menjawab apa, karena aku tak dapat bahasa karma halus selain, ‘nggih’.parah.
“le, omongno amanah iki marang konco-koncomu. Dadio wong kang iso makmurke Bangsa iki. Ilangi iblis-iblis sing wani nggrogoti. Kandelno jiwa patriotmu. Ora kenal nyerah nek jek iso mlampah, ra bakal kalah sakdurunge izroil singgah!”
“nggih mbah”
“yo wis le”, bapak sepuh itu batuk-batuk ringan, “gatekno apik-apik amanah iki. Ora mung ‘nggah-nggih wae!”.
‘Glek’..sial.
Bapak itu pun kembali kerumah karena batuknya yang terlihat semakin parah. Setelah menutup jendela-jendela masjid akupun kembali kerumah. Di sepanjang jalan, ku ingat-ingat kembali apa yang dikatakan simbah tadi. Kupandangi bintang-bintang yang bahagia memantulkan sinar kecilnya. Mereka tetap bahagia walau tak seterang bulan kala itu. Karena pikirku, mereka pasti bersyukur, walau mereka tak dapat membuat nikmat bagi kehidupan bumi layaknya matahari, namun dia dapat menjadi keindahan yang dinikmati oleh manusia di bumi-Nya.
Sampai rumah, aku berusaha melawan kantukku yang membabi-buta. Namun, aku hanyalah manusia biasa yang lemah…(ngeles) akupun terlelap dalam mimpi indahku bersama bidadari..uhuy
“asslaamualaikum wr wb.”, pukul 06.10 suara 3 buah speaker TOA masjid membangunkan tidurku. Dengan berat mata aku mencoba mendengarkan, biasanya ada pengumuman tempat kerja bakti kalau hari Ahad seperti ini.
Tapi…
“innalillahi wa inna ilaihi raajiun..(3x –males ngetik jwe-)
Telah berpulang dengan tenang ke Rahmatullah, Bapak Satyo Mangun Negara..”
Gleek..
“berusia 87 tahun, beralamat di Wonocatur. Insya Allah jenazah akan dimakamkan di TPU desa Wonocatur pukul 13.00. wassalamualikum..”
Aku menelan ludah..seolah tak percaya..Innalillahi wa innailaihi roojiun.

0 komentar:

Posting Komentar